Pilih Mana Antara Canon, Xerox, Ricoh Untuk Usaha Fotocopy?

In: Berita

Dalam memilih mesin fotocopy untuk kebutuhan usaha / bisnis komersil tentunya kita harus mempertimbangkan beberapa hal agar sesuai dengan kebutuhan usaha. Jika salah sedikit saja anda memilih mesin resikonya cukup fatal karena menyangkut kelangsungan sebuah usaha fotocopy yang nantinya akan anda kelola.

Canon,-Xerox,-Ricoh-Untuk-Usaha-Fotocopy

Merek mesin fotocopy paling umum dipake untuk usaha fotocopy adalah sebagai berikut:

Kemudian level menengah ada merek: Kyocera, Konika Minolta, sharp, Toshiba. Lalu disusul dilevel paling bawah ada merek mesin fotocopy: Panasonic dll.

Kemudian apakah yang menjadi pertimbangan dalam memilih mesin fotocopy untuk usaha? Ada 3 hal penting yang menjadi pertimbang dalam menyaring merek mesin fotocopy yang paling cocok untuk usaha antara Canon, Xerox ataukan Ricoh

1. Harga Mesin Fotocopy

Harga mesin fotocopy baru bisa dibilang sangatlah mahal untuk pemula dalam memulai bisnis fotocopy karena kita harus mengalokasikan dana untuk perlengkapan lainnya seperti ATK dan aksesoris lainnya. Jika anda tidak percaya coba anda buktikan harga mesin dengan merek dan kecepatan yang sama dan fitur yang mirip seperti Canon iR5075 bekas harganya 23jt an, barunya bisa mencapai 200jt bahkan lebih. silahkan cek harga barunya ke PT.Samafitro sebagai ATPM nya Canon

2. Ketersediaan Stok Mesin Fotocopy

Dalam hal ini kami akan menekankan masalah ketersediaan komponen suku cadang dan sparepart elektronik karena mesin ini tidak diproduksi di Indonesia maka kemudian hari anda pasti akan membutuhkan sparepart KANIBAL untuk mensuplai kebutuhan mesin anda.

Mesin bekas mana yang banyak tersedia? Sudah jelas yang memegang pangsa pasar terbesar di dunia dan Indonesia (Xerox, canon, ricoh) bila di kemudian hari kita perlu komponen KANIBALAN (bukan komponen habis pakai yang normal seperti tinta dan karet penarik kertas) kita tidak terlalu kesulitan mencarinya.

3. Merek apa yang banyak spare parts nya dan murah bahan habis pakainya?

Belilah mesin bekas atau rekondisi tapi yang ex impor, jangan lokalan karena karakter orang asia adalah ganti bila sudah sama sekali tidak terpakai / bila sudah menggangu operasional. yang dikhawatirkan nantinya kita dapet mesin kondisi “capek” mirip sampah rongsokan. Berbeda dengan ex-USA dimana mereka ketat memakai system susut buku (akuntansi) dimana bila nilai susut sudah NOL, sebagus apapun kondisi mesin tetap akan mereka remajakan.

Paling umum dan banyak dipakai untuk usaha fotocopy adalah mesin fotocopy Canon hal ini dapat dibuktikan dengan survei langsung ke pengusaha fotocopy di pinggir jalan atau jika mau mencari referensi di internet silahkan anda  buka google tulis saja canon spareparts, bandingkan dengan merek lain, hasil google nya akan terlihat jelas di hasil search global maupun local Indonesia.
Jadi saran saya pribadi untuk saat ini, belilah mesin forocopy rekondisi merek Canon untuk usaha.

Semoga informasi ini bermanfaat untuk ada terutama bagi yang masih bingung dalam memilih merek mesin fotocopy apakah mau pakai merek Canon, Xerox atau Ricoh. Semua keputusan kami kembalikan ke tangan anda dan yang perlu diketahui jangan mudah terjebak bujuk rayu sales atau promo mesin fotocopy yang kurang jelas.

By: Admin Tags: ,

Mesin Fotocopy Warna Fuji Xerox DocuCentre SC2020

In: Berita

Berita terbaru dari Astragraphia pada awal November 2014 secara resmi telah memperkenalkan produk mesin fotocopy warna dengan fitur multifungsi. Produk tersebut adalah Fuji Xerox DocuCenter SC2020 yang sengaja dihadirkan khusus untuk para Mitra Usaha Astragraphia dalam melengkapi solusi cetak dokumen yang akan ditawarkan kepada para pelanggan, khususnya segmen UKM.

Kelebihan DocuCentre SC2020 selain memiliki kecepatan cetak 20 lembar permenit, memiliki keunggulan cetak warna terbaik serta dilengkapi dengan feature keamanan, mobile print, dan ramah lingkungan. Tentu saja hal inilah yang akan menjadi solusi bagi pelaku UKM di Indonesia yang memerlukan sebuah mesin fotocopy warna harga murah namun bisa mengakomodir segala kebutuhan usaha.

Fuji Xerox DocuCentre SC2020 hadir dengan tampilan dimensi yang kecil, mesin fotocopy warna ini juga memiliki resolusi print hingga 1200 x 2400 dpi. Selain itu, menilik fitur dan teknologi tentu saja DocuCentre SC2020 telah dilengkapi dengan teknologi Fuji Xerox Vertical-Cavity Surface Emiting Laser (VCSEL) yang berfungsi untuk mengatur print head agar secara efektif memancarkan cahaya berintensitas tinggi. Dengan begitu, DocuCentre SC2020 mampu menghasilkan resolusi cetak yang tinggi, namun tetap hemat energi.

Fuji Xerox DocuCentre SC2020
advertising

Satu hal yang perlu diapresiasi adalah pada kemudahan mengoperasikan mesin fotocopy ini, sepertinya hal ini sudah dipersiapkan secara matang oleh fuji xerox, pengguna akan secara mudah menggunakan mesin ini karena menggunakan user interface yang mudah disertai tombol navigasi yang cukup membantu bagi penggunanya.

Melihat perkembangan teknologi di Indonesi yang telah begitu pesat membuat DocuCentre SC2020 juga dilengkapi dengan fitur mobile print. Oleh karena itu, lewat perangkat mobile, seperti smartphone atau tablet, pengguna dapat mencetak dokumen tanpa melalui komputer. Tak hanya itu, pengguna juga bisa menyimpan dokumen yang dipindai oleh mesin ke perangkat smartphone atau tablet melalui jaringan lokal via nirkabel.

Feature lainnya yang tak kalah menarik adalah ramah lingkungan. Fuji Xerox DocuCenter SC2020 diklaim oleh Astragraphia mampu menghemat konsumsi toner dengan melakukan kalibrasi kepekatan melalui tiga pengaturan, yakni Light, Lighter, Lightest. Selain itu, DocuCentre juga memiliki nilai Typical Electricity Consumption (TEC) sebesar 1,2 kWh dan mengonsumsi hanya 1,4 watt dalam mode Sleep.

Harga Fuji Xerox DocuCentre SC2020

Di Indonesia mesin ini dipasarkan dengan harga Rp.49.500.000 ( Harga SRP ) tentu saja untuk mendapatkan harga PROMO atau DISKON menarik anda bisa membelinya di Reseller atau Dealer terdekat dengan tempat anda

By: Admin Tags: ,

Fotocopy Buku Tanpa Ijin Bisa Dipolisikan

In: Berita

Aturan baru dalam fotocopy buku harus membayarkan royalti kepada penulis sudah mulai diberlakukan sejak 16 september 2014 tetapi kami yakin banyak para pengusaha fotokopi yang belum mengetahui berita dan aturan ini, adalah Kartini Nurdin yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus YRCI yang menyampaikan aturan baru mengenai larangan memfotocopy buku tanpa ijin dan membayarkan royalti kepada penulis buku tersebut.

fotocopy buku tanpa ijin bisa dipolisikan
gambar hanya ilustrasi

Hal ini dikarenakan banyak penulis dan penerbit yang keberatan buku dan hak cipta mereka dilanggar, berdasarkan survei banyak pihak yang memperbanyak buku tanpa memperhatikan aturan royalti penulis.

“Penelitian, survei sudah dilakukan, hasilnya selama ini kita banyak yang melanggar. Kita sudah banyak yang melanggar, jangan kita juga dicap sebagai pencuri,” kata Kartini saat dihubungi merdeka.com, Kamis (25/9).

Aturan baru fotocopy buku ini juga berlaku bagi perguruan tinggi yang ingin memperbanyak buku hanya diperbolehkan pada bagian yang dibutuhkan saja tidak untuk keseluruhan, jika ingin semuanya harus membayarkan royalti 10% dulu untuk mendapatkan lisensi dari YRCI.

Bagi sebagian pembaca khususnya para pengusaha fotocopy pasti belum banyak yang mengetahui apa itu YRCI kok bisa bisanya membuat aturan baru tentang fotocopy buku semacam ini, YRCI adalah Yayasan Reproduksi Cipta Indonesia, yang dimaksudkan bisa merefleksikan semua anggotanya/pemangku kepentingan yang terdiri bukan saja penulis, pengarang dan penerbit buku, namun juga illustrator, photographer, penerjemah, wartawan, penerbit majalah, koran dan lainnya.

Dengan adanya berita ini kami harap para pengusaha fotocopy khusnya dan para pengguna jasa fotocopy pada umumnya untuk lebih memperhatikan aturan dalam memfotocopy buku.

Semoga informasi ini bermanfaat untuk kita semua

Baca Juga:

Awas Fotocopy Buku Cetak Wajib Bayar Royalti

By: Admin Tags: ,

Awas Fotocopy Buku Cetak Wajib Bayar Royalti

In: Berita

Kabar mengejutkan mengenai pelanggaran hak cipta terutama soal fotocopy buku tentunya akan menjadi topik yang memanas untuk akhir bulan september ini, menurut Ketua Dewan Pengurus YRCI Kartini Nurdin yang kami kutip dari merdeka mengatakan bahwa aturan tersebut ditegakkan untuk menghargai hak ekonomi penulis buku. Berdasarkan survei, banyak pihak yang memperbanyak buku tanpa memperhatikan aturan royalti kepada penulis buku tersebut.

Aturan ini mulai diterapkan 16 September 2014 dan YRCI telah menjaring banyak pengusaha fotokopi yang melanggar hak cipta penulis buku, dengan seenaknya memfotokopi buku. Lalu bagaimana hal ini berdampak terhadap para pengusaha fotocopy itu sendiri?

aturan baru fotocopy buku
ilustrasi Fotokopi. ©Istimewa

Sanksi Bagi Pengusaha Fotocopy

Tindakan pertama yang dilakukan YRCI adalah memperingatkan pengusaha fotocopy. Jika tidak diindahkan, maka akan memproses sesuai dengan UU dan tidak menutup kemungkinan mempolisikan pengusaha fotokopi.

Bayangkan saja berapa banyak pengusaha fotocopy di Indonesia yang belum mengetahui hal ini, paling tidak sebelum menetapkan aturan tentang larangan fotocopy buku ini disosialisasikan terlebih dahulu kepada seluruh pengusaha fotocopy di Indonesia baik itu melalui sosial media ataupun selebaran tertulis.

Kartini juga menerangkan bahwa aturan royalti ini juga berlaku untuk kalangan akademik. Kartini menjelaskan perguruan tinggi diperbolehkan memfotokopi buku untuk keperluan akademik dengan syarat harus mendaftar ke YRCI agar mendapat lisensi dengan biaya 10% untuk biaya royalti

Bagaimana pendapat anda mengenai hal ini?

 

Sumber: merdeka.com

Jangan Sewa Mesin Fotocopy Untuk Usaha

In: Berita

Kata siapa sewa mesin fotocopy untuk usaha lebih menguntungkan? Bohong jika ada yang bilang bahwa untuk memulai bisnis fotocopy anda tidak perlu repot repot membeli sebuah mesin fotocopy tetapi anda cukup dengan menyewa saja dari perusahaan disekitar kota tinggal anda. Kenapa kami katakan demikian? Jelas karena alasan utama adalah anda tidak akan sanggup bersaing karena modal cetak perlembar hampir 2 x lipat dari harga jual perlembar, jadi apakah tujuan anda usaha? mencari keuntungan atau cuman sekedar mencari kesibukan?

sewa-mesin-fotocopy-untuk-usaha

Alasan Jangan Menyewa Mesin Fotocopy Untuk Usaha

Akan kami berikan simulasi perhitungannya jika menghitung modal biaya cetak perlembar dengan menyewa sebuah mesin fotocopy.

  • Biaya sewa mesin fotocopy Canon iR4570 perbulan 450.000 untuk free copy ( gratis pemakaian ) sebanyak 3.000 lembar perbulan.
  • Harga kertas A4 70 gram Rp.25.000 untuk 1 Rim

Mari menghitung biaya modalnya

  • Sewa Rp.450.000 dibagi 3.000 lembar = 150
  • Kertas Rp.25.000 dibagi 500 lembar = 50
  • Jadi biaya yang dikeluarkan untuk 1 lembar fotocopy adalah 150 + 50 = Rp.200,-

Perlu dicatat hitungan ini belum termasuk biaya listrik yang harus anda tanggung serta belum termasuk biaya sewa tempat jika kebetulan anda tidak memiliki kios sendiri.

Yang jadi pertanyaan adalah: MAU DIJUAL BERAPA JASA FOTOCOPY PERLEMBAR ANDA ??? jika modal pokok saja sudah sebesar Rp.200 rupiah belum biaya lainnya apakah laku jika menjual jasa perlembar diatas itu? Jadi silahkan dipikir baik baik maksud dan tujuan anda untuk bisnis fotocopy jika ingin mencari keuntungan maka jawabannya adalah jangan sewa mesin fotocopy untuk usaha.

Meskipun banyak yang terjerumus pemikiran dan beranggapan bahwa dengan menyewa mesin fotocopy tidak perlu modal besar dan ditanggung spare part serta servis nya oleh perusahaan yang menyewakan, tapi kembali lagi ke tujuan usaha pasti kami yakin anda akan mencari sebuah keuntungan bukan kesibukan semata.

Semoga tulisan ini bermanfaat tolong disampaikan kepada teman atau kerabat bahwa inilah alasan utama banyak perusahaan yang menawarkan jasa sewa mesin fotocopy kebanyakan hanya untuk pemakaian di perkantoran saja tidak untuk kebutuhan usaha atau komersil karena mereka sudah memahami hal ini.